Makan Bersama Keluarga Mencegah Etika Jelek Remaja

Setiap hukum fiqih mempunyai hikmah didalamnya. Mulai hikmah kesehatan, ekonomi, sosial dan psikis/kejiwaan. Namun, Kira-kira apakah adab/akhlaq juga punya hikmah?

Salahsatu adab makan adalah tidak makan sendirian.

ﺍﻟﺨﺎﻣس : ﺃﻥ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺗﻜﺜﻴﺮ ﺍﻷﻳﺪﻱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻭﻟﺪﻩ

Imam Ghazali menyebutkan salahsatu adab makan adalah berusaha memperbanyak jumlah orang yang ikut makan meskipun hanya keluarga dan anaknya (Family dinner/makan bersama keluarga).

ﻓﺈﻥ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻣﺎ ﻛﺜﺮﺕ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﻳﺪﻱ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻳﺄﻛﻞ ﻭﺣﺪﻩ (ﻣﻮﻋﻈﺔ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺝ ١ ﺹ ٩٣)

Alasannya, karena sebaik-baik makanan adalah yang banyak pesertanya. Juga karena, Nabi Muhammad shalla Allahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah makan sendirian

Kok Nabi sampai sebegitu menjaga adab ini? Mungkinkah makan bersama sangat penting?

Terdapat sebuah penelitian yang dapat menjawab pertanyaan ini. The National Center on Addiction and Substance Abuse mengungkap bahwa remaja yang jarang makan bersama keluarga (kurang dari tiga kali per minggu), dua kali lebih banyak yang jadi peminum dan perokok daripada remaja yang sering makan bersama keluarga (5 – 7 kali per minggu). Bahkan remaja yang jarang makan bersama keluarga, 1,5 kali lebih banyak yang menjadi pemakai mariyuana saat dewasa.¹

Di tahun 2006, terdapat penelitian yang mirip dengan penelitian itu. Penelitian ini berlangsung di 25 negara bagian Amerika Serikat dengan jumlah responden 49.138 anak laki2 dan 49.620 anak perempuan. Para peneliti proyek ini mengatakan bahwa penelitian mereka secara konsisten menunjukkan bahwa kebiasaan makan bersama keluarga menumbuhkan tabiat yang bermanfaat untuk perkembangan anak. Misalnya:

  • Kehangatan keluarga;
  • Kemampuan anak membuat rencana dan keputusan tepat;
  • Kemampuan anak untuk bertahan meski di lingkungan/situasi buruk;
  • Komitmen untuk belajar;
  • Kepercayaan diri.

Penemuan mereka juga menunjukkan bahwa kebiasaan makan bersama keluarga dapat mencegah akhlak yang merugikan masa depan mereka. Misalnya:

  • Kecanduan alkohol/obat2an;
  • Pergaulan bebas;
  • Depresi;
  • Antisosial (sifat suka melanggar hukum dan merusak barang);
  • Kekerasan;
  • Membuat masalah di sekolah;
  • Masalah pola makan.

Meski begitu, hasil penelitian ini bukan menunjukkan hubungan kausalitas (sebab akibat) tapi korelasi (keterkaitan/kebiasaan). Hasil penelitian ini bukan berarti semakin sering makan bersama keluarga, semakin rajin/semakin ber-etika. Hasilnya juga bukan berarti semua anak yang jarang makan bersama keluarga, tidak rajin/tidak beretika. Tapi, kesimpulan yang benar adalah biasanya anak-anak yang sering makan bersama keluarga sifatnya baik.²

Faktor utamanya bukan pada masalah makan bersamanya tapi masalah interaksi/komunikasi di dalamnya. Sebuah penelitian lain mengatakan bahwa kalau makan bersama keluarga sambil nonton televisi, maka manfaat pendidikan makan sehatnya tidak akan muncul.³

Demikian lah hikmah dan pentingnya makan bersama dari sudut psikologi. Semoga kita semakin yakin dengan tuntunan Nabi Muhammad –shalla Allahu ‘alihi wa sallam– dan keberkahan bertakwa pada Allah.

والله أعلم بالصواب

اللهم ارزقنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى أله وصحبه وبارك وسلم والحمد لله رب العالمين. آمين…

_______________________

¹ https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-intelligent-divorce/201306/the-family-dinner

² http://www.jahonline.org/article/S1054-139X(05)00577-X/fulltext

³ http://jandonline.org/article/S0002-8223(07)00015-6/abstract

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.