Menghidupkan Malam Hari Raya

Para ahli Fiqih sepakat bahwa menghidupkan dua malam hari raya (idul fithri dan idul adha), hukumnya sunnah. Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad shalla Allahu alihi wa sallam:

ﻣَﻦ ﻗَﺎﻡَ ﻟَﻴْﻠَﺘَﻲِ اﻟْﻌِﻴﺪِ ﻣُﺤْﺘَﺴِﺒََﺎ ، ﻟَﻢْ ﻳَﻤُﺖْ قَلْبُهُ ﻳَﻮﻡَ ﺗَﻤُﻮﺕُ اﻟﻘُﻠُﻮﺏُ

Artinya:

“Barangsiapa menghidupkan malam hari raya sambil mengharapkan pahala dari Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari ketika banyak hati mati”. (Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah, Hadits Dhoif)

Para ulama’ madzhab Hanafi berpendapat -mengikuti Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu- bahwa berjamaah Sholat Isya dan bertekat jamaah Subuh, sudah dikategorikan menghidupkan malam hari raya (sudah dapat deposit balasan menghidupkan malam hari raya).*

Ngomong-ngomong yang nulis post ini sudah sholat Isya’ atau belum, ya? Aduh… sudah dulu, ya.

*Diterjemahkan dari mausu’ah fiqhiyah kuaitiyah juz 2 halaman 235.

ﺇﺣﻴﺎء ﻟﻴﻠﺘﻲ اﻟﻌﻴﺪ:
11 – ﻳﻨﺪﺏ ﺇﺣﻴﺎء ﻟﻴﻠﺘﻲ اﻟﻌﻴﺪﻳﻦ (اﻟﻔﻄﺮ، ﻭاﻷﺿﺤﻰ) ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ اﻟﻔﻘﻬﺎء (2) . ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ: ﻣﻦ ﻗﺎﻡ ﻟﻴﻠﺘﻲ اﻟﻌﻴﺪ ﻣﺤﺘﺴﺒﺎ ﻟﻢ ﻳﻤﺖ ﻗﻠﺒﻪ ﻳﻮﻡ ﺗﻤﻮﺕ اﻟﻘﻠﻮﺏ (3) . ﻭﺫﻫﺐ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ اﺗﺒﺎﻋﺎ ﻻﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺛﻮاﺏ اﻹﺣﻴﺎء ﺑﺼﻼﺓ اﻟﻌﺸﺎء ﺟﻤﺎﻋﺔ، ﻭاﻟﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﺟﻤﺎﻋﺔ (4) .

____________________
(2) اﻟﻤﺠﻤﻮﻉ 4 / 45، ﻭﺷﺮﺡ اﻟﻤﻨﻬﺎﺝ 2 / 127، ﻭاﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ 1 / 460، ﻭﻣﺮاﻗﻲ اﻟﻔﻼﺡ ﺻ 318، ﻭﻛﺸﻒ اﻟﻤﺨﺪﺭاﺕ ﺻ 86، ﻭاﻟﺒﺤﺮ اﻟﺮاﺋﻖ 2 / 256 ﻃ اﻷﻭﻟﻰ ﺑﺎﻟﻤﻄﺒﻌﺔ اﻟﻌﻠﻤﻴﺔ، ﻭﺣﺎﺷﻴﺔ اﻟﺮﻫﻮﻧﻲ 1 / 181 ﻃﺒﻊ ﺑﻮﻻﻕ 1306، ﻭاﻟﻤﻐﻨﻲ 1 / 159
(3) ﺣﺪﻳﺚ ” ﻣﻦ ﻗﺎﻡ ﻟﻴﻠﺘﻲ اﻟﻌﻴﺪ ﻣﺤﺘﺴﺒﺎ ﻟﻢ ﻳﻤﺖ. . . ” ﺃﺧﺮﺟﻪ اﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ، ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻤﻨﺬﺭﻱ ﻓﻲ اﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻭاﻟﺘﺮﻫﻴﺐ: ﻓﻴﻪ ﺑﻘﻴﺔ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ ﻣﺪﻟﺲ.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.