Pesantren di Perbatasan Bolaang Mongondow Timur dan Minahasa Tenggara

Mencari pondok pesantren di Sulawesi Utara? Di Bolaang Mongondow Timur? Perbatasan dengan Ratatotok-Minahasa Tenggara? Miftahul khoir Buyat (Pesantren Cabang Tebuireng ketujuh) jawabannya.

Pesantren ini difokuskan pada penguasaan kitab kuning yang merupakan sumber primer untuk pemahaman ulama’ tentang Islam Ahlus sunnah wal jama’ah. Bukan sumber hukum Islam, loh. Tapi rujukan utama dalam memahami syariat dan akhlaq islam. Kan hampir semua kelompok yang sesat juga memakai rujukan Al-Qur’an dan hadits? Tapi pemahaman mereka sesat. Maka kita tidak hanya perlu membaca Al-Qur’an dan hadits tapi juga keterangan dari murid-murid Nabi Muhammad SAW dan ulama’ yang turun-temurun menjadi murid mereka.

Disamping keilmuan, kita juga perlu melihat tingkah laku. Sudah diketahui bahwa orang islam yang banyak mendapatkan pendidikan agama Islam, cenderung lebih sopan dan religius daripada muslim yang sedikit mendapat pendidikan agama islam. Kita juga tahu bahwa kualitas pendidikan agama islam berbeda-beda. Biasanya sih, SDM di pesantren lebih kompeten dalam hal agama.

Walaupun begitu, kita juga tahu bahwa tidak semua orang yang berilmu mengamalkan ilmunya. Nah, disitu lah letak pentingnya riyadhoh (latihan menjalankan ajaran islam) dan berkumpul dengan orang-orang sholeh.

Riyadhoh dan lingkungan yang memberi teladan, dapat mempermudah kita untuk beragama dengan baik. Salah satu tempatnya adalah di pesantren.

Setelah santri dibiasakan hidup beragama, maka lama-kelamaan ajaran agama itu akan merasuk dalam hati, menjadi tabiat dan membudaya. Di titik ini, in syaa Allah, iman sulit digoyahkan. Bahkan, iman dalam hati mampu menyinari lingkungan dimanapun ia pergi. Tentu dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Wah, saya jadi teringat sebuah ayat yang menggambarkan kesempurnaan Nabi Muhammad SAW:

(يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا)

“Wahai Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya Aku telah mengirimmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan dan sebagai orang yang mengundang ke jalan Allah dengan seizin-Nya juga sebagai pelita yang membuat pelita-pelita baru”
[Surat Al-Ahzab 45 – 46]

اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى أله وأصحابه

Pelita-pelita baru itu siapa? Tentunya murid-murid beliau. Siapa mereka? Para sahabat. Kemudian murid-murid para sahabat dan ulama seterusnya. Bukankah

العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاء

“Ulama’ adalah pewaris para nabi”?

Ulama’ itu siapa? Ulama secara bahasa adalah orang-orang yang berilmu. Namun, berilmu saja tidak cukup. Ulama’ yang diakui Allah dan Rasul adalah

(… إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ)

“…Sesungguhnya, yang takut pada Allah dari golongan penyembah-Nya itu lah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Mulia/Penguasa dan Maha Pemaaf.”
[Surat Fathir 28]

Oleh karena itu, pendidikan agama bukan hanya mengisi otak dengan ajaran agama tapi juga mengisi hati dan menghiasi perbuatan dengan iman. Nah, salahsatu lembaga pendidikan yang serius memperhatikan pikiran, hati dan perbuatan adalah pesantren.

Pada dasarnya pendidikan agama islam memperhatikan tiga hal ini. Kita bisa melihat peran para wali dulu dan para pendahulu yang sholeh. Mereka lebih mementingkan isi daripada bungkus agama yang hanya di otak, lidah dan akting badan.

Overall, yang penting belajar sungguh-sungguh dan niat benar. Berbeda-beda tempat, tidak masalah. Sumuanya punya keutamaan.

من سلك طريقا يلتمس به علما سهل الله به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan dengannya jalan menuju surga”.

Oh, iya sampai lupa. Kegiatan pesantren dimulai bersamaan dengan hari masuk sekolah MTs, yakni tanggal 6 Juli 2018.

Sampai bertemu di pesantren.

Assalamu alaikum ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.