Mengapa Ada Hadits Palsu

Halloween Printable Masks

Jangan heran kenapa banyak hoax, janji palsu dan hadits palsu di sekitar orang-orang religius. Dari zaman dulu, sudah begitu. Tinggal kita mau meneruskan atau berhenti.

Apa saja alasan orang membuat hadits palsu?
Pembuatan hadits palsu mempunyai banyak motif. Yang paling jelas ialah:

  • Untuk dakwah mendekatkan diri pada Allah

Mereka menganggap bahwa yang dilarang adalah membuat hadits palsu untuk menyesatkan, bukan untuk mengajak pada kebaikan. Padahal ini jelas-jelas salah karena hadits melarang segala bentuk dusta atasnama Nabi.

Cara pembuatan hadits palsunya adalah dengan mengada-ada hadits yang mendorong masyarakat untuk kebaikan dan hadits yang menakut-nakuti masyarakat atas perbuatan jelek. Masalahnya: biasanya para pembuat hadits palsu model ini adalah orang yang kesannya zuhud dan baik. Padahal mereka ini sejelek-jeleknya pembuat hadits palsu karena masyarakat pasti menerima hadits palsu orang-orang ini sebab percaya dengan (karakter) mereka.

Contoh:
Maysarah bin Abdi Rabbih. Imam Ibnu Hibban pernah bertanya pada Maysarah, “Darimana engkau mendapat hadits2: siapa yang membaca …, maka dia mendapat …?”
Maysarah menjawab, “Aku memalsukannya. Aku mau menyemangati masyarakat”.

  • Untuk menolong madzhabnya

Apalagi madzhab politik. Pembuatan hadits palsu model ini terjadi setelah kemunculan “fitnah”/ujian bagi umat serta kemunculan kelompok politik seperti khawarij (pemberontak) dan syi’ah.

Sungguh, masing-masing kelompok heboh membuat hadits palsu yang mendukung madzhabnya. Contoh: “Ali bin Abi Thalib (ra) adalah sebaik-baik manusia. Siapa yang meragukannya, berarti telah kafir.”

  • Menjelek-jelekkan Islam/membuat kesesatan dalam ajaran Islam agar Islam menjadi jelek

Pembuat hadits palsu model ini adalah kaum kafir zindiq. Mereka tidak mampu merusak Islam secara terang-terangan. Oleh karena itu, mereka berniat jelek dengan menyusupkan paham/hadits-hadits palsu dalam Islam. Tujuannya untuk merusak/mengubah Islam dan menjelek-jelekkannya.

Contoh: Muhammad bin Said asy-Syaammy yang zindik radikal. Dia meriwayatkan hadits palsu, “Aku (Nabi Muhammad) adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi setelahku kecuali Allah berkehendak (lain).”
Untungnya, para ahli hadits telah mengulas hadits-hadits semacam ini. Alhamdu lillah.

  • Untuk menjilat para hakim/pemimpin

Sebagian orang yang lemah iman ingin dekat dengan para hakim/pemimpin. Mereka menempuhnya dengan cara membuat hadits palsu yang sesuai dengan penyelewengan/kesenangan para hakim/pemimpin.

Contoh:
Ghiyats bin Ibrahim an-Nakh’i al-Kufy mengahdap kepada Amirul mukminin al-mahdy saat beliau sedang bermain dengan burung dara. Kemudian Ghiyats membacakan sanad sampai ke Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa salam bahwa Nabi bersabda, “Tidak ada perlombaan (yang boleh) kecuali (lempar target dengan) pisau/anak panah, khuf/sepatu (lomba lari), kuku hewan (?) atau sayap (balapan unggas/burung)”.
.
Ghiyats membuat hadits palsu dengan menambah bagian “atau sayap (balapan burung)” agar Khalifah al-Mahdy terkesan. Sayangnya Khalifah menyadari itu. Akhirnya, Khalifah al-Mahdy meminta burung dara itu disembelih saja. Eh, Ghiyats justru menawarkan diri untuk melakukannya. Ghiyats tidak melakukan sesuai hadits palsunya sehingga jelas bahwa dia sebenarnya hanya menjilat pemimpin.

  • Untuk kerja dan mencari rejeki

Contoh: tukang cerita yang berkerja mencari uang dengan bicara pada masyarakat. Mereka meriwayatkan beberapa kisah yang indah dan menakjubkan agar orang-orang mau serius mendengarkan dirinya dan memberinya uang seperti Abu Sa’id al-Mada-ini

  • Untuk mendapatkan ketenaran/popularitas

Caranya dengan meriwayatkan hadits gharib/asing yang tidak bisa dijumpai dari guru-guru hadits manapun yang kredibel. Orang-orang yang membuat hadits palsu ini membalik/mengubah sanad (urutan murid-guru) hadits agar masyarakat heran dan kepalsuaannya tidak terdeteksi. Sehingga, masyarakat mau mendengar hadits darinya seperti Ibnu Abi Dahiyyah dan Hammad bin Nashibi.

__________
Terjemah bebas dari kitab “Taysirul Musthalah Hadits” halaman 113-115

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.